Purwanto, Kadisdik Purwakarta: ”Jika Penularan Covid-19 Masih Berkembang, Belajar di Rumah Akan Diperpanjang”

Seperti daerah lain dan instruksi dari pemerintah pusat, Dinas Pendidikan Purwakarta  mengeluarkan kebijakan dalam pola pendidikan guna meminimalisir mewabahnya pandemi Covid-19. Kebijakan home schooling dinilai efektif untuk upaya tersebut.

BERDASARKAN Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan kab. Purwakarta nomor 420/689/Disdik tanggal 16 Maret 2020 tentang Tindak Lanjut Pencegahan Penyebaran COVID-19 dan Pembelajaran Secara Daring /Jarak Jauh pada Satuan Pendidikan di Kabupaten Purwakarta. Home Schooling mulai tanggal 16-27 Maret 2020.

Sejauh mana efektivitas pelaksanaan home schooling di Purwakarta, berikut wawancara Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta Dr. H. Purwanto, M.Pd dengan purwasukanews.com belum lama ini.

PurwasukaNews (PN):  Bagaimana Diknas memantau penerapannya agar kebijakan tersebut sesuai dengan yang diharapkan? Misalnya, bagaimana sistem pelaporan dari setiap sekolah, dansebagainya. Apakah ada tim khusus pemantau?

Purwanto (P): Pemantauan dilakukan melalui perangkat yang dimiliki Dinas Pendidikan, yaitu para pengawas, baik pengawas jenjang SD maupun pengawas jenjang SMP. Dinas Pendidikan memantau pengawas dengan cara rapat online melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting untuk mendengarkan laporan bagaimana kondisi di lapangan dalam hal ini pembelajaran jarak jauh (PJJ)yang dilakukan para guru.

PN: Selain itu?

P: Ada pula pemantuan  top down dan bottom up. Pemantauan top down saya lakukan melalui WAG para Korwil dan kepala sekolah, termasuk Grup Guru Penggerak yang tergabung dalam Tim Pengembang sekolah, baik SD maupun SMP.

PN: Pemantauan bottom up seperti apa?

P: Pelaporan bottom up dilakukan secara berjenjang, dari para orang tua kepada para guru wali kelas masing-masing melalui grup WhatsApp (WA) Wali Kelas dengan para orang tua siswa.

Dari wali kelas laporan ke kepala sekolah dan dari kepala sekolah ke pengawas pembina masing-masing. Selanjutnya dari pengawas pembina ke Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta.

Selain itu, Dinas Pendidikan membuat google form terkait pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang disebar ke sekolah untuk diisi sebagai pemantauan dan pengumpulan data.

PN: Pola pendidikan seperti apa yang diterapkan agar siswa betul-betul mengikuti home schoolling?

P: Ada dua pola. Pola pertama, bagi siswa yang memiliki fasilitas teknologi maka dengan moda Daring (dalam jaringan) online, menggunakan berbagai aplikasi seperti google classroom, edmodo, rumah belajar, dan lain-lain.

Pola kedua bagi siswa yang belum memiliki fasilitas teknologi maka dengan moda luring (luar jaringan) atau offline atau konvensional dengan cara guru memberikan instrumen kegiatan pembelajaran seperti portofolio dan penugasan dalam bentuk manual.

Tugas ditulis tangan oleh siswa, lalu laporannya difotokan bagi yang memiliki HP, bagi yang tidak memiliki HP, laporannya nanti dikumpulkan pada saat masuk sekolah.

PN: Sejauh ini, kendala apa yang dihadapi sepanjang home schooling berlangsung?

P: Fasilitas teknologi sebagai media pembelajaran tidak semua dipahami, dipunyai, dan bisa dilakukan oleh orang tua siswa.

Kadar sinergitas dan kerjasama antara orang tua siswa dengan guru. Masih ditemukan orang tua yang acuh tak acuh belum bisa bekerjasama dengan baik.

PN: Apa yang dilakukan tenaga pengajar sepanjang home schooling berlangsung?

P: Melakukan pemantauan melalui grup WhatsApps (WA) wali kelas dengan orang tua siswa. Mereka berinteraksi secara daring bagi yang pembelajarannya online. Menyusun bahan ajar, materi dan insturmen pembelajaran jarak jauh (PJJ).

PN: Selain itu?

P: Selain itu, mereka mengumpulkan, menganalisis, dan menilai hasil pembelajaran peserta didik dan meningkatkan kapasitas dirinya selaku guru pembelajar.

PN: Selama home schooling, siswa diimbau untuk tetap berada di rumah dan tak diperkenankan bepergian, khususnya ke tempat keramaian. Bagaimana upaya Diknas agar imbauan ini berjalan?

P: Kami menyampaikan kepada para orang tua peserta didik melalui jejaring yang ada agar anak-anaknya tetap di rumah. Agar orang tuanya juga bisa menemani di rumah dan keluar jika dalam keadaan mendesak.

Hal ini dilakukan semua sekolah sudah diperintahkan untuk membuat surat yang memberikan penjelasan kepada orang tua.

Kami juga menugaskan tim Gerakan Disiplin Sekolah (GDS) Tingkat Kabupaten untuk melakukan patroli ke tempat-tempat yang potensial peserta didik berkumpul seperti warnet, dan tempat-tempat lain.

Selain itu, kami juga bekerjasama dengan Satpol PP, Babinsa dan Babinkamtibmas untuk mencegah dan membubarkan kerumunan anak-anak sekolah jika ada.

PN: Ada informasi, Disdik juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tempat keramaian. Apakah sudah berjalan? Bagaimana hasilnya?

P: Ya, hasilnya kami menemukan beberapa siswa yang tertangkap.

PN: Selain home schooling, adakah kebijakan lain yang masih berkaitan dengan upaya meminimalisir penyebaran Covid-19 di Purwakarta?

P: Seluruh kepala sekolah diwajibkan menyemprotkan disinsfektan di lingkungan sekolahnya masing-masing secara serempak, mumpung tidak ada pembelajaran di sekolah.

Kami juga mewajibkan kepala sekolah melengkapi wastafel yang sudah ada di setiap kelas dengan sabun untuk cuci tangan.

Selain itu, kami mewajibkan guru-guru mengajarkan cara cuci tangan yang benar. Menyampaikan tugas atau materi tentang Covid-19 dalam pembelajaran di rumah yang harus dipahami siswa.

PN: Imbauan untuk para orang tua siswa?

P: Saya paham akan banyak orang tua yang komplain dengan kebijakan belajar di rumah. Bisa jadi itu karena keterbatasan kemampuan dan kesibukan mereka mendampingi anak-anaknya.

Saya juga paham tentu akan banyak hal yang di sebabkan keterbatasan guru baik karena fasilitas dan kemampuan mereka. Saya ingin mengatakan bahwa hal yang paling utama dari kebijakan ini adalah anak-anak tetap sehat tidak terpapar Covid 19, sehingga hal paling penting yang harus dilakukan para orang tua adalah pastikan anak-anaknya tetap berada di rumah dan tidak keluyuran.

Batasi mereka untuk bersentuhan dengan orang lain. Kalau para orang tua mempunyai keterbatasan membimbing anak-anaknya belajar rumus-rumus dan teori-teori atau apapun seperti yang dilakukan para guru di sekolah.

Didiklah mereka di rumah dengan hal-hal positif yang sangat berharga dan mudah dilakukan seperti mencuci, memasak, menyetrika, melipat baju, bersih-bersih, memberi makan hewan peliharaan, merawat bunga dan lain-lain.

PN: Jika batas waktu yang telah ditentukan habis, sedangkan Covid-19 masih merebak, apakah kebijakan ini akan diperpanjang?

P: Kami akan lihat perkembangan nasional dan regional Jawa Barat. Saya belum bisa memastikan penularan Covid-19 ini akan terhenti atau malah berkembang. Kalau terus berkembang dipastikan akan diperpanjang. Namun itu bagaimana keputusan nanti. Saya akan mengikuti regulasi.

Saat ini jumlah sekolah yang berada di bawah tanggungjawab Diknas Purwakarta yakni, Taman Kanak-Kanak sebanyak 170 (3 negeri dan 167 swasta), Sekolah Dasar (SD) sebanyak 409 (378 negeri dan 31 swasta), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 108 (52 SMP, 29 Satap, dan 27 swasta).

Diberlakukannya home schooling atau belajar di rumah, berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 3 Tahun 2020 tanggal 9 Maret 2020, berikut surat-surat edaran turunannya hingga Surat Edaran Bupati Purwakarta nomor 443.1/936/Disdik tanggal 13 Maret 2020 tentang Pencegahan Kemungkinan Penularan Corona Virus Desease (COVID-19) pada Satuan Pendidikan di Kabupaten Purwakarta.

Dan, Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta nomor 420/689/Disdik tanggal 16 Maret 2020 tentang Tindak Lanjut Pencegahan Penyebaran COVID-19 dan Pembelajaran Secara Daring /Jarak Jauh pada Satuan Pendidikan di Kabupaten Purwakarta.***

 

 

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Share-->>>
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Close
PurwasukaNews.com | Jurnalisme Apa Adanya