[OPINI]: Manusia Kuota

Bagikan Berita:

oleh: Widdy Apriandi

Disadari atau tidak, kita kadung bergantung kepada internet. Koneksi nyaris menjadi suatu kemestian. Sehingga, jika tidak terpenuhi, hidup bisa berasa hampa.

Maka, gadget dan kuota (internet) tak ubah seperti padanan udara dan nyawa. Sebagai sebuah produk, ia pelan tapi pasti melonjak menjadi kebutuhan bertaraf primer. Apalagi, makin ke sini, ketika teknologi dan inovasi saling bersahut-sahutan.

Permintaan terhadap kuota tambah menggila. Ia bertransformasi menjadi produk wajib ada dalam kehidupan sehari-hari. Sejajar dengan beras, telur dan mie instan. 

Sebagai konsekuensi yang mesti lahir, tidak mengherankan jika 'perang' antar provider jasa komunikasi seluler terjadi sengit semacam konflik Palestina - Israel. Semua mengklaim diri paling terjangkau. Paling rasional.

Tawaran bandrol harga dan konten-konten tambahan jadi tontonan sehari-hari di televisi. 'Menggoda' kita segera membelinya saat itu juga kalau bisa. 

Pun, tidak perlu mengernyitkan dahi jika zona bertuliskan "Free Wi-Fi" akan selalu dipenuhi peminat. Siapapun, termasuk saya, kan butuh koneksi. Apalagi, gratis! Masak nggak mau?! Lumayan menghemat kuota data yang sengaja dibeli. 

Tapi, rupanya istilah "Free Wi-Fi" bukan berarti free interest. Bebas kepentingan. Tidak. Alih-alih, selalu ada kepentingan yang entah langsung atau tidak terselip di dalamnya. Entah berupa celah pencitraan politik atau promosi korporasi. Tergantung siapa si penjamin layanan. 

"Bodo amat!" suara batin kita boleh jadi akan mengatakan hal yang serupa. Peduli amat soal kepentingan! Selama gratisan kenapa juga harus repot mikirin?

Yang penting internet nyambung! Kita pun girang. Senang bukan main. Sebab, koneksi internet terlanjur berlaku seperti candu. Dan kita adalah para pengguna yang akan resah bila tak memperoleh jatah. 

Ya, koneksi internet adalah candu. Karena, ia mampu menghadirkan kesenangan. Ekstase. Kita diantarkan pada tulisan-tulisan, gambar-gambar, video-video yang bisa kita lihat sesuka hati. Tinggal klik.

Tak lupa, kita berkesempatan jadi pribadi lain. Sosok alter yang jauh lebih baik. Lebih mulia. Caranya gampang, tinggal bikin akun sosial media. Terserah mau akun asli atau palsu. Keduanya sama. Sama-sama bersifat pseudo. Tak nyata!

Ya, sekali lagi, koneksi internet adalah candu. Sebab, ia pun memfasilitasi ketergantungan. Bukankah begitu logikanya? Segala sesuatu yang berakibat ketergantungan pada prinsipnya adalah candu. 

Hanya saja, negara bersama alat-alatnya demen memfragmentasi. Memilah. Memilih. Ada candu yang dilarang, ada candu yang boleh. Sabu-sabu, pil ekstasi dan sejenisnya masuk daftar barang haram. Pemakai dan pengedarnya bisa dicokok.

Tapi, rokok boleh. Legal, karena ada jaminan regulasi negara. Terlebih, negara bisa bernafas lega, karena ada setoran dari industri rokok. Tak peduli banyak rakyat yang justru susah nafas karena paru-paru rusak. 

Sama halnya, koneksi internet juga dibolehkan. Hanya saja, sekarang, pembatasan-pembatasan mulai kentara. Sejak ruang kritik terbuka sangat luas. Sejak penguasa bisa gampang saja jadi obyek serangan bebas; dalam rupa hashtag atau justru mention langsung kepada orangnya. 

Kasihan. Mestinya, sesama pecandu internet jangan saling tikam. Penguasa dan kita kan sama-sama warganet (netizen). Boleh dong sama-sama posting.  Persoalannya, meski berhak sama, diantara jelata dan penguasa tetap ada garis demarkasi. Postingan penguasa kerap ditimpali nyinyir sebagai pencitraan.

Demokrasi tegak di atas prinsip kepastian hukum. Penguasa sebagai pemegang mandat tahu betul soal itu. Maka, kebebasan internet harus dibatasi. Lagi-lagi, penguasa, negara dan alat-alatnya memang gemar memfragmentasi. UU ITE dibuat segera. Undang undang ini jadi semacam panduan pembuatan konten; ini boleh, itu tidak. Sejenis sensor "zaman now". Kira-kira begitu.

Hati-hati dalam membuat konten. Semangat UU itu kiranya demikian. Kritik kepada penguasa dapat ditafsirkan sebagai ujaran kebencian (hate speech). Kemudian, kritik tanpa data A-1 bisa disebut hoax. Luar biasa!

Jadi, sudah posting apa anda hari ini? Yang jelas, jangan lupa pesan moral dari negara yang bunyinya begini, "gunakan internet secara bijak". Jujur saja, saya bingung, ini ajakan atau ancaman?**

Penulis adalah pegiat kopi tanah air dan founder kedai kopi "Bandit" - Purwakarta

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Dinkes: “Virus Singapura di Gandasari Bukan Kejadian Luar Biasa” https://t.co/yEx4fbjfXF
PurwasukaNews.com
Butuh Biaya Operasi Rp 1,4 Miliar, Permata Galang Dana untuk Azahra https://t.co/FFjUGXzMLh
Follow PurwasukaNews.com on Twitter