Banner Atas

[OPINI]: Debat Publik Belum Lahirkan Gagasan Original 

Bagikan Berita:

Oleh: Farid Farhan

Pilkada Purwakarta belum melahirkan gagasan original. Hal ini terlihat dari materi ide dan gagasan yang disampaikan oleh seluruh pasangan calon dalam Debat Publik Pilkada Purwakarta. 

PILKADA Purwakarta diikuti oleh tiga pasangan calon. Padil Karsoma berpasangan dengan Acep Maman bernomor urut 1. Anne Ratna Mustika dan Haji Aming pada nomor urut 2, dan Zainal Arifin berpasangan dengan Luthfi Bamala bernomor urut 3. 

Saya melihat, seluruh kandidat masih bergerak pada tatanan gagasan yang bersifat normatif. Sementara, masyarakat Purwakarta membutuhkan solusi riil dan cepat dalam rangka menjawab berbagai permasalahan yang berkembang. 

Saya melihat kegagalan seluruh pasangan calon mem-breakdown visi dan misi mereka ke dalam tatanan teknis. Sehingga, semua terlihat tidak berpijak pada aspek kebutuhan masyarakat Purwakarta. Kalimat yang mereka lontarkan terkesan normatif, tidak membumi.

Tadinya saya menduga akan terjadi pertarungan gagasan antara paslon 2 dan paslon 3. Akan tetapi, prediksi saya meleset setelah menyaksikan debat publik tersebut. 

Saya menduga debat akan sengit antara paslon 2 dan paslon 3. Paslon 2 memiliki komitmen melaksanakan pembangunan Purwakarta berkesinambungan. Sementara paslon 3 cenderung ingin mengubah identitas Purwakarta yang sudah dikenal massif. Tetapi, rupanya debat sengit itu tidak terjadi.

Hembusan Politik Sektarian

Pasangan nomor urut 2 yang dihuni oleh Anne-Aming memang memiliki program melanjutkan Purwakarta Istimewa. Tagline tersebut bahkan sudah mendunia dan berhasil mendongkrak kesuksesan di berbagai bidang. 

Sementara, pasangan nomor urut 3, Zainal Arifin-Luthfi Bamala berangkat dari ideologi sektarian. Hal ini terbukti dari sentimen yang dimunculkan oleh buzzer pasangan tersebut di media sosial. Isu yang mereka lontarkan rata-rata berkutat pada permasalahan larangan memilih pemimpin perempuan. 

Kalau melihat visi dan misi, paslon nomor urut 2 terlihat realistis, poin kuncinya melanjutkan pembangunan. Saya kira, pembangunan di mana pun membutuhkan konsistensi dan kesinambungan. Beda dengan paslon nomor urut 3 yang lebih berkutat pada isu sektarian. Paling tidak, saya menelaah itu dari media sosial media. 

Jargon pasangan nomor urut 3 sendiri sudah bersifat sektarian. Jargon tersebut adalah ‘Pilih Zalu’ (Zainal Arifin-Luthfi Bamala). Jika dilafalkan dalam bahasa Sunda, Zalu (Jalu) memiliki makna ‘Laki-laki’. 

Lawan kata jalu itu bikang, artinya perempuan. Jargon Pilih Zalu, itu merupakan ikhtiar agar memilih pemimpin laki-laki. Sementara dalam undang undang kita, baik laki-laki maupun perempuan memilik hak politik yang sama. Saya kira, kita harus lebih dewasa dalam berdemokrasi. 

Selama ini, saya tidak melihat manuver yang dilakukan oleh paslon nomor 1, Padil Karsoma-Acep Maman.  Pasangan tersebut terlambat mengidentifikasi diri dengan isu sektarian. Sehingga, eksistensinya kemungkinan hanya akan menggerus basis elektoral paslon nomor urut 3. 

Identifikasi personal paslon nomor 1 itu sama dengan paslon nomor 3, sama-sama mencitrakan diri sebagai pribadi religius. Saya kira, mereka agak terlambat. Tetapi, secara positioning malah akan mengambil basis nomor 3. Sementara basis Anne-Aming akan solid. 

Bayang-Bayang Dedi Mulyadi 

Kesulitan yang dialami seluruh pasangan calon di Pilkada Purwakarta memang cukup beralasan. Sangat sulit bahkan untuk sekadar mendekati gagasan yang sukses diterapkan oleh Bupati Purwakarta sebelumnya, Dedi Mulyadi. 

Purwakarta di masa-masa mendatang akan merindukan seorang pemimpin yang ideolog, paham kultur dan punya pandangan strategis dalam kebijakan. Untuk mendekati kriteria kepemimpinannya saja akan sulit, apalagi menandingi dan melebihi. 

Karena itu,  membangun iklim dialog peradaban menjadi penting. Hal ini tidak terlepas dari pondasi-pondasi peradaban yang telah berhasil diletakkan pria yang kini diamanahi tugas besar itu. Dedi Mulyadi kini tengah mengemban amanah sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Barat.

Terlepas dari berbagai situasi yang mengiringinya, Dedi Mulyadi berhasil menciptakan ekosistem untuk berperadaban di Purwakarta. Saya kira dialognya tidak bisa sekadar lempar isu, harus dialog peradaban pula yang kita bangun.

Sehingga, masyarakat Purwakarta memiliki konstruksi berpikir yang kuat dalam memahami realitas.**

Penulis adalah Kepala Divisi Kajian Politik dari Pusat Studi Politik dan Pertahanan Strategis Purwakarta

 

 

 

 

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Tiga Mobil Tabrakan di Tol Cipali, Lima Tewas https://t.co/O7mcKxBRmG
PurwasukaNews.com
Irsyad Nasution Gantikan Ruslan Subanda https://t.co/fy50KQAXQg
Follow PurwasukaNews.com on Twitter