[OPINI]: Sebuah Tempat Bernama Purwakartun

Bagikan Berita:

oleh: Tatang Budimansyah*

Saya tinggal di sebuah tempat bernama Purwakartun. Namanya memang hampir sama dengan Purwakarta. Tapi, sumpah, yang ingin saya ceritakan bukan soal Purwakarta, tapi Purwakartun.

MEMANGNYA berbeda? Ya, jelas beda. Purwakarta adalah kabupaten yang istimewa. Taman terhampar di mana-mana. Kotanya resik, dan marangginya gurih.

Kondisi Di Purwakartun, tempat tinggal saya itu, kebalikan dari Purwakarta. Ada banyak persoalan. Ada api di dalam tumpukan sekam. Api itu, bisa saja padam, tapi bisa juga malah membesar dan menghanguskan segala.

Persoalan yang saat ini tengah gencar diperbincangkan publik, adalah soal dugaan korupsi perjalanan dinas DPRD Purwakartun. Dua orang sudah menjadi tersangka. Dan Kejari Purwakartun saat ini sibuk memeriksa seluruh anggota dewan, termasuk para unsur pimpinan.

“Kasus korupsi di gedung dewan diharapkan menjadi pintu masuk untuk kasus-kasus lainnya yang lebih besar,” kata seorang aktifis Purwakartun.

Lha, emang ada kasus yang lebih besar? “Banyak bung. Ingat, ini Purwakartun, bukan Purwakarta. Di sini banyak persoalan yang mesti dibereskan. Tak seperti Purwakarta yang adem, ayem, aman, dan tentram!!” katanya berapi-api.

Okelah. Kita tunda dulu soal ‘kasus besar lainnya’ itu. Biarkan waktu yang bicara kelak. Kita bincang saja soal kasus yang sedang ramai sekarang, yang sedang ditangani Kejari Purwakartun.

Di tengah hangat-hangatnya pemanggilan para pimpinan DPRD Purwakartun oleh penegak hukum, baru-baru ini tersiar kabar miring.  Kabar tersebut ikhwal kunjungan kerja (kunker) Komisi 1,2, dan 3 DPRD Purwakartun ke DPRD Kabupaten Ogan Ilir, Palembang pada 15-17 Maret silam.

Berdasarkan penelusuran purwakartunnews (sebuah media online di Purwakartun), ada seorang oknum anggota dewan yang nyeleneh dalam kunker itu. Dia pulang dari Palembang pada tanggal 16 Maret. Lebih cepat sehari dari waktu yang telah diagendakan.

Salah kalau pulang duluan? Siapa tahu dia pulang lebih cepat karena ada hal yang lebih urgent di Purwakartun. Tidak, tidak terlalu salah sih. Cuma terasa ‘lucu’ saja.

Di mana letak ‘lucu’nya? Ya, lucu karena meskipun pulang lebih dulu, dia tampaknya tak ingin kehilangan honor SPPD yang menjadi jatahnya.

Sebagai wakil rakyat yang cerdas, dia mengakali supaya tetap menerima honor itu, meskipun tak ikut dalam kunker hari terakhir tanggal 17 Maret. Caranya dengan menitipkan KTP ke staf setwan yang ikut serta dalam kunker tersebut.

KTP itu digunakan untuk syarat reservasi tiket pesawat. Ketika rombongan pulang pada 17 Maret, staf setwan mem-booking pesawat Garuda. Tak lupa dia juga mem-booking tiket untuk oknum anggota dewan yang sebenarnya sudah ongkang kaki di Purwakartun.

Dengan kata lain, dia membeli tiket untuk orang yang tak hendak naik pesawat. Tujuannya cuma satu, boarding ticket atas nama oknum itu dijadikan sebagai bukti fisik bahwa sang oknum seolah-olah ikut kunker pada hari terakhir. Dengan bukti itu, sang oknum masih berhak menerima jatah honor SPPD hari terakhir. Hadeuh!

Lantaran nama sang oknum tertera pada jadwal penerbangan, maka pihak maskapai memanggil namanya saat para calon penumpang berada di ruang tunggu. Ya, pesawat sudah bersiap lepas landas.

“Mohon perhatian. Penumpang Garuda dengan nomor penerbangan bla bla bla atas nama bla bla bla, harap segera menaiki pesawat, karena sebentar lagi pesawat akan segera take off” kurang lebih seperti itu pengumuman yang disampaikan pihak maskapai. Bukan sekali, tapi berkali-kali.

Padahal, orang yang dipanggilnya, mungkin saja saat itu sedang tertidur pulas di rumahnya di Purwakartun. “Halo Garuda, aku sudah ada di rumah. Gue tipu lu, hkhkhk,” begitu barangkali yang dia ucapkan.

Begitulah. Sepenggal catatan yang bisa dipetik dari kunker DPRD Purwakartun ini adalah, sang oknum kerja selama dua hari, tapi mendapat honor untuk tiga hari. Memanipulasi waktu dan mencomot rupiah.

Catatan lainnya, demi untuk memenuhi keinginan sang oknum, staf setwan Purwakartun membuang duit secara mubazir, dengan membeli tiket tanpa penumpang. Membeli tiket hanya untuk dijadikan bukti fisik.

Berdasarkan penelusuran Purwakartunnews, ternyata selain ada seorang oknum dewan yang pulang duluan, ada pula seorang oknum lainnya yang malah terbang ke Malaysia saat kunker berlangsung. Dia buru-buru kembali dari Malaysia ke Palembang agar bisa pulang ke Purwakartun bersama rombongan pada 17 Maret.

Saat pulang ke Purwakartun, tentu saja mereka menjinjing mpek mpek Raden yang rasanya lezat tiada tara.  

Oh, jadi begitu ya. Di saat soal kunker menjadi sorotan publik, masih ada oknum yang gagah berani melakukan praktik seperti itu. Itu baru di satu kunker. Bagaimana dengan kunker-kunker lainnya? Entahlah!  

Untung saja itu terjadi di Purwakartun. Sangat jauh berbeda dengan di Purwakarta. Meskipun namanya hampir sama, namun, sekali lagi, antara Purwakartun dengan Purwakarta sangat berbeda.

Mana ada di Purwakarta anggota dewan seperti itu. Di Purwakarta, para anggota dewan adalah orang-orang pilihan. Pengabdian mereka tak diragukan. Mereka cerdas, memiliki integritas, dan bekerja demi kemaslahatan rakyat.

Berbeda dengan kondisi Purwakartun yang kacau balau, centang perenang, dan karut marut. Hadeuh!***

*Penulis adalah Penikmat Pers  

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook