Banner Atas

[OPINI]: Politik Purwakarta, Pengaruh Gagasan atau Kekuasaan

Bagikan Berita:

oleh: Agil Nanggala

Masyarakat Purwakarta akan disuguhi pesta demokrasi yang menarik, yakni pemilihan umum kepala daerah. Masyarakat wajib menggunakan hak pilihnya, untuk memilih satu dari beberapa pasangan calon. Karena pemilihan itulah yang akan menentukan arah pembangunan Purwakarta ke depan.

SECARA resmi KPU Purwakarta 12 Februari 2018 menetapkan tiga pasangan calon. Pasangan tersebut adalah Anne Ratna Mustika-Aming, Padil Karsoma-Acep Maman, dan Zainal Arifin-Luthfi Bamala.

Sebenarnya masih ada pasangan lain yakni, Rustandie-Dikdik Sukardi. Tetapi karena adanya SK ganda DPP Partai Hanura, pasangan tersebut tidak diloloskan KPU Purwakarta. Proses pemufakatan dalam beberapa  koalisi ini tidaklah lepas dari utak-atik politik yang bisa menampung kepentingan dari beberapa pihak. Lumrah rasanya, dalam politik, jika tidak kompromi, pasti konflik.

Kita tidak dapat menutup mata dengan koalisi politik yang terbentuk di Purwakarta hari ini. Ada seorang yang menjadi kontestan dalam pemilu kepala daerah Jawa Barat, sebagai calon Wakil Gubernur, yakni Dedi Mulyadi. Dia menjadi king maker dalam pembentukan koalisi tersebut.

Maklum, sebagai Bupati Purwakarta dua periode,  (2008-2018), Dedi Mulyadi telah membentuk loyalisnya sampai ke akar rumput. Bukan saja di Purwakarta, tetapi di daerah lain, yang menjadi bagian dari daerah Jawa Barat. Bahkan dengan nilai jualnya tersebut, dia didapuk menjadi Ketua DPD Golkar Jawa Barat pada tahun 2016, dengan keberhasilannya membangun sistem di Purwakarta.

Dan dengan kepiawaiannya melakukan lobi-lobi politik, akhinya DPP Golkar melayangkan surat rekomendasi kepada istri Dedi Mulyadi, yakni Anne Ratna Mustika untuk mengikuti pemilu kepala daerah Purwakarta. Sehingga sudah menjadi rahasia umum, Dedi Mulyadi akan menggerakkan loyalis dan mesin partainya untuk memenangkan istrinya untuk menjadi Bupati Purwakarta.

Hal yang juga tidak bisa kita lupakan adalah pengaruh dari orang yang mendampingi istrinya sebagai calon Wakil Bupati, yaitu H. Aming yang merupakan orang berpengaruh secara elektoral di Sukatani.  

Perlu kita ketahui bahwa pasangan Anne Ratna Mustika-Aming mendapat dukungan dari partai politik yang paling banyak, yakni Golkar, Demokrat, Nasdem, PAN, PKB dan Hanura.

Politik tidak bisa dilakukan dengan hitungan matematis. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika kepentingan telah terakomodir dalam politik.

Pemilu kepala daerah Purwakarta tidak lengkap rasanya jika tidak membicarakan calon yang pernah menduduki jabatan tertinggi PNS, yakni  Padil Karsoma yang menggandeng Acep Maman, sebagai wakilnya.

Perlu kita ketahui bahwa pasangan ini memang menarik. Padil Karsoma adalah mantan Sekretaris Daerah Purwakarta yang mengajukan pensiun dini. Dan Acep Maman adalah satu-satunya Ketua DPC Partai yang bertarung dalam kontestasi pemilu Kepala Daerah ini.

Sebagai mantan Sekda, Padil Karsoma memiliki pengaruh yang kuat di kalangan birokrat, dan selalu mendampingi Dedi Mulyadi untuk membuat kebijakan dalam mengatasi permasalahan pembangunan di Purwakarta.

Maka logis rasanya jika Padil Karsoma memiliki strategi untuk mempertahankan tren pembangunan di Purwakarta. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk meningkatkan tren pembangunan tersebut, jika hal tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin, akan menjadi magnet masyarakat untuk memilihnya.

Karena tidak dapat kita pungkiri mencari sosok sekaliber Dedi Mulyadi di Purwakarta itu memang susah. Belum lagi pengaruh Acep Maman sebagai Ketua DPC PDIP Purwakarta, dengan jabatannya yang strategis, dia dapat menggerakkan mesin partai dengan mudah.

Sebagai partai yang berideologi nasionalis, dan identik dengan kaum Marhaen, PDIP akan mudah dalam meraup suara di kalangan masyarakat. Karena mayoritas masyarakat Purwakarta adalah petani dan juga buruh. Belum lagi PPP yang merepresentasikan dukungan dari kaum agamis, seperti ulama dan santri, akan meningkatkan daya jual dari pasangan ini. Perlu kita uji, sejauh manakah pasangan ini dapat bertahan.

Dan yang terakhir adalah pasangan yang maju secara independen, yakni Zainal Arifin-Luthfi Bamala. Mayoritas masyarakat Purwakarta masih asing dengan pasangan ini. Namun jangan salah, dengan keseriusan dan kepiawayan mereka, pasangan ini dapat maju secara independen, dan membuat kagum banyak pihak.

Zainal Arifin adalah akademisi yang berprofesi sebagai Dosen di Universitas Swasta dalam Negeri. Dia melambangkan cendikiawan Islam. Karena itulah dia mendapatkan dukungan dari banyak ulama di Purwakatta. Sedangkan Luthfi Bamala adalah pengusaha muda Purwakarta yang sukses. Dia merepresentasikan kaum milenial yang berkarya. Sehingga dapat diyakini jika pendekatannya baik kepada kaum muda, dan dengan jabatannya tersebut, aksesnya kepada pengusaha di Purwakarta menjadi peluang memenangi Pilkada Purwakarta.

Politik erat kaitannya dengan kekuasaan. Harold D. Laswell, berpendapat bahwa politik adalah “siapa mendapat, apa, kapan dan bagaimana”. Bukan tanpa sebab, karena politik berbicara bagaimana seorang mendapatkan kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan merebut kekuasaan.

Merebut atau mempertahankan kekuasaan harus dengan cara yang beradab. Setiap golongan memiliki kepentingan politik yang berbeda-beda. Setiap orang pernah di atas dan pernah di bawah dalam  kehidupannya. Hal tersebut berlaku dalam politik. Ada golongan yang berkuasa, ada juga golongan yang tidak berkuasa.

Biasanya ikut berkoalisi menjadi bagian penguasa atau menjadi penyeimbang sebagai oposisi. Kiranya pembagian peran sebagai koalisi dan oposisi itu baik, karena peluang penyalahgunaan kekuasaan cenderung akan sedikit kemungkinannya. 

Perebutan kekuasaan secara sah dalam politik dapat dilaksanakan pada saat pemilu. Pemilu yang menggunakan sistem “one man one vote”, mengharuskan politisi berjibaku dengan politisi lainnya untuk merebut suara mayoritas masyarakat.

Berjibaku harus dilaksanakan dengan mengadu program kerja, meningkatan elektabilitas politik, dan hal positif lainnya, membuat masyarakat ikut terlibat dalam menilai atau memberi tanggapan. Sehingga pendidikan politik memang nyata terjadi dalam masyarakat.

Keliru jika berjibaku menggunakan politik yang tidak beradab atau yang kita kenal sebagai “black campaign”. Misalnya menggunakan isu suku, agama ras dan antar budaya, penjatuhan nama baik, dan yang lainnya. Meskipun berpolitik, tetap kepentingan bangsa dan negara harus di atas segalanya.

Kesejahteraan dan peningkatan kecerdasan masyarakat harus menjadi prioritas dalam berpolitik. Walaupun politik berbicara kekuasaan, tetapi tujuan akhir politik harus berbicara mengenai kebaikan masyarakat. Karena penguasa diberi mandat oleh konstitusi untuk menjalankan roda pemerintahan.

Esensi yang tidak boleh dilupakan seorang politisi, dibutuhkan seorang politisi yang pembaharu, yang tidak membuat jemu. Inilah dunia politik, kadang menjadi drama yang dikonsumsi oleh publik, di mana selalu terlibat dengan kekuasaan, kepentingan dan kadang kemunafikan.***

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Departemen Pendidikan Kewarganegaraan dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Civics Hukum PKn FPIPS UPI

Tentang Purwasuka News

Purwasuka News adalah media informasi terkini dan terupdate Purwasuka yang akurat dan berimbang, menghadirkan informasi seputar Purwasuka, Jabar, Politik, Hukum, Kuliner, Ekbis, Sosok, Hobi, Feature, Opini, Gaya Hidup, Foto, dan lainnya.

Email: purwasukanewscom@yahoo.co.id
Redaksi: Kompleks Asabri C 7 No.3 Bunder, Jatiluhur Purwakarta - Jawa Barat

Facebook

Twitter

PurwasukaNews.com
Tiga Mobil Tabrakan di Tol Cipali, Lima Tewas https://t.co/O7mcKxBRmG
PurwasukaNews.com
Irsyad Nasution Gantikan Ruslan Subanda https://t.co/fy50KQAXQg
Follow PurwasukaNews.com on Twitter